My super fantastic life!

9th January 2010

Photo

The reason i love music (jazz) so much. Dimulai dari pertengahan tahun 2008, ketika Mas Hendra dan Masmo mempercayakan saya menjadi manajer dari band yang dia bentuk bersama Joshua Arifin, notturno. Mereka sempat ragu apakah saya akan menyukai musik yang mereka bawakan, dikarenakan mereka mengetahui saya adalah penggila musik Nu-Jazz sedangkan mereka membawakan lagu beraliran jazz eksperimental yang katanya riweh dan ribet. Setelah saya dengarkan lagunya, ternyata kuping saya tidak bisa dibohongi, saya jatuh cinta dengan musik notturno. Mungkin inilah band jazz yang bisa menyelamatkan dunia jazz Indonesia. Sebuah band yang membawakan genre jazz yang tidak mengikuti pasar.
Urusan kuping saya yang biasa mendengarkan musik anomali seperti ini memang terbilang lumrah, namun memasarkan dan memperkenalkan musik mereka ke publik adalah sebuah PEER untuk saya. Karena itulah saya di-hire oleh mereka. Untuk memperkenalkan ke khalayak umum musik yang sangat jarang di Indonesia.
Ketiga album diatas adalah fondasi kuat notturno untuk bisa “berbicara” di dunia musik Indonesia, jazz pada umumnya. Alhamdulillah, berkat kerja keras disertai bantuan dan dukungan dari banyak, kami bisa membayar semua keraguan orang terhadap musik dengan aliran seperti ini disaat band-band di negara ini memainkan musik yang setipe dan makin menurun kualitasnya. Ternyata banyak orang yang masih mempunyai harapan yang sama, bahwa musik Indonesia harus diselamatkan dengan band-band seperti notturno. Setahun belakangan, kami bisa berkeliling Indonesia di festival-festival jazz maupun banyak event lainnya. Gongnya adalah ketika beberapa minggu yang lalu, panitia Java Jazz Festival meminta kami untuk bermain di event mereka. Sebuah mimpi yang tampaknya masih dalam taraf angan-angan pada setahun yang lalu.
Well, perjalanan dengan notturno belum usai sampai sini, masih banyak PEER-PEER lain yang saya harus kerjakan demi menyebarkan virus jazz ala notturno sampai ke telinga orang-orang yang mungkin tidak pernah mendengarkan musik seperti ini dan diluar komunitas jazz Indonesia yang mungkin sudah mengenal kami. Simple saja, kami ingin bisa bermain di event-event musik yang anak-anak muda buat, diluar festival Jazz seperti JGTC. Memperdengarkan dan menunjukkan musik dan aksi panggung kepada anak-anak muda (SMP, SMU atau kuliah). Memperlihatkan mereka bahwa musik Indonesia belum mati. Kami masih punya kualitas.
Seperti yang saya bilang dari awal tadi, untuk meraih impian diatas, seperti memulai dari nol. Ini adalah PEER sekaligus tantangan besar untuk saya. Semoga semua berjalan dengan lancar.
#2 from #365shots in 365 days

The reason i love music (jazz) so much. Dimulai dari pertengahan tahun 2008, ketika Mas Hendra dan Masmo mempercayakan saya menjadi manajer dari band yang dia bentuk bersama Joshua Arifin, notturno. Mereka sempat ragu apakah saya akan menyukai musik yang mereka bawakan, dikarenakan mereka mengetahui saya adalah penggila musik Nu-Jazz sedangkan mereka membawakan lagu beraliran jazz eksperimental yang katanya riweh dan ribet. Setelah saya dengarkan lagunya, ternyata kuping saya tidak bisa dibohongi, saya jatuh cinta dengan musik notturno. Mungkin inilah band jazz yang bisa menyelamatkan dunia jazz Indonesia. Sebuah band yang membawakan genre jazz yang tidak mengikuti pasar.

Urusan kuping saya yang biasa mendengarkan musik anomali seperti ini memang terbilang lumrah, namun memasarkan dan memperkenalkan musik mereka ke publik adalah sebuah PEER untuk saya. Karena itulah saya di-hire oleh mereka. Untuk memperkenalkan ke khalayak umum musik yang sangat jarang di Indonesia.

Ketiga album diatas adalah fondasi kuat notturno untuk bisa “berbicara” di dunia musik Indonesia, jazz pada umumnya. Alhamdulillah, berkat kerja keras disertai bantuan dan dukungan dari banyak, kami bisa membayar semua keraguan orang terhadap musik dengan aliran seperti ini disaat band-band di negara ini memainkan musik yang setipe dan makin menurun kualitasnya. Ternyata banyak orang yang masih mempunyai harapan yang sama, bahwa musik Indonesia harus diselamatkan dengan band-band seperti notturno. Setahun belakangan, kami bisa berkeliling Indonesia di festival-festival jazz maupun banyak event lainnya. Gongnya adalah ketika beberapa minggu yang lalu, panitia Java Jazz Festival meminta kami untuk bermain di event mereka. Sebuah mimpi yang tampaknya masih dalam taraf angan-angan pada setahun yang lalu.

Well, perjalanan dengan notturno belum usai sampai sini, masih banyak PEER-PEER lain yang saya harus kerjakan demi menyebarkan virus jazz ala notturno sampai ke telinga orang-orang yang mungkin tidak pernah mendengarkan musik seperti ini dan diluar komunitas jazz Indonesia yang mungkin sudah mengenal kami. Simple saja, kami ingin bisa bermain di event-event musik yang anak-anak muda buat, diluar festival Jazz seperti JGTC. Memperdengarkan dan menunjukkan musik dan aksi panggung kepada anak-anak muda (SMP, SMU atau kuliah). Memperlihatkan mereka bahwa musik Indonesia belum mati. Kami masih punya kualitas.

Seperti yang saya bilang dari awal tadi, untuk meraih impian diatas, seperti memulai dari nol. Ini adalah PEER sekaligus tantangan besar untuk saya. Semoga semua berjalan dengan lancar.

#2 from #365shots in 365 days

Tagged: notturno,365shots