My super fantastic life!

25th January 2010

Photo

Hooligans? Super crazy fanatic football supporters? You bet.
Taken before Persija vs Persisam match. One of the Persija Jakarta group members of the supporter. They known as The Jak.
#18 from #365shots in 365days

Hooligans? Super crazy fanatic football supporters? You bet.

Taken before Persija vs Persisam match. One of the Persija Jakarta group members of the supporter. They known as The Jak.

#18 from #365shots in 365days

Tagged: 18365shotsThe-JakHooligans

25th January 2010

Photo

We Care? Seems we don’t care enough.
#17 from #365shots in 365days

We Care? Seems we don’t care enough.


#17 from #365shots in 365days

Tagged: 365shots17StoS

23rd January 2010

Photo

Di malam pembukaan South to South Film Festival saya menemukan 2 maskot festival ini yang dibuat dari bahan kardus dan CD.
Unik, lucu dan kreatif.
#16 from #365shots in 365days

Di malam pembukaan South to South Film Festival saya menemukan 2 maskot festival ini yang dibuat dari bahan kardus dan CD.

Unik, lucu dan kreatif.

#16 from #365shots in 365days

Tagged: 16carbon doll365shots

22nd January 2010

Photo

This is photo of my Batik bed cover. Just random thing that i shoot yesterday, and guess what? I fell a sleep before i uploaded this photo.
Oh well, at least I’ve done my duty to keep update my #365shots project.
#15 from #365shots in 365 days.

This is photo of my Batik bed cover. Just random thing that i shoot yesterday, and guess what? I fell a sleep before i uploaded this photo.

Oh well, at least I’ve done my duty to keep update my #365shots project.

#15 from #365shots in 365 days.

Tagged: 365shots15random

21st January 2010

Photo

The return of SUPER I-POD. Judul yang paling tepat untuk tema #14 di #365shots kali ini. Tadi ketika saya browsing di internet tentang I-Pod dan Mp3 Player lainnya karena rasa menggebu saya sudah lama saya tidak mempunyai teman sejati (baca: Mp3 Player) selama perjalanan, saya teringat dengan I-Pod Mini saya yang sudah lama terabaikan. I-Pod saya itu terabaikan diduga karena baterai sudah soak, tidak mau nyala lagi dan tampak sudah tidak ada harapan hidup dan bisa memutar lagu kecuali diganti dengan baterai yang baru.
Seketika, saya langsung mengeluarkan I-Pod itu dari laci meja saya, dan mencoba mencoloknya lagi ke komputer. Sekali percobaan. Tidak bereaksi. Dua kali. Tetap tidak nyala. Tiga kali. Masih tidak ada tanda kehidupan. Oke, berarti tandanya memang sudah harus diganti. Lalu, saya browsing informasi tentang baterai I-Pod mini itu di internet. Setelah dapat toko yang menjual baterai I-Pod Mini dengan harga terjangkau, saya mencatatnya dan akan membawa I-Pod saya itu kesana untuk diganti baterai-nya.
Tidak lama setelah itu, saya iseng lagi untuk mencolokkan I-Pod saya itu kembali ke komputer. Keisengan yang berbuah keajaiban. Kali ini I-Pod saya nyala, dan komputer saya mendeteksi adanya I-Pod Mini itu. Saya buka I-Tunes, benar saja, I-Pod saya kembali terintergrasi didalamnya. Wahhhh perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, setelah selama setahun lamanya mati suri, secara ajaib I-Pod Mini ini kembali hidup.
Oke, saya tidak boleh senang dulu, karena kasus ini dulu pernah terjadi dan tidak bertahan lama. Hidup, namun baterai-nya tetap bocor ketika memainkan lagu, alhasil satu lagu dimainkan sudah mati lagi. Kali ini saya mencoba men-charge I-Pod itu selama 1 jam sebelum saya pergi. Hasilnya? I-Pod ini berhasil menemani saya sepanjang perjalanan pergi dan pulang tadi, karena memang tadi saya beraktifitas menggunakan sarana angkutan umum. Total sekitar 20-25 lagu berhasil dimainkan, dan baterai tidak nge-drop.
Horaaaaayyyyy!!!! My super I-Pod turns back to life! Well, saya tampaknya tidak boleh senang dulu, kemungkinan untuk drop lagi sangatlah besar. Tapi untuk saat ini, bolehlah saya berkata: Welcome back my super I-Pod :)
#14 from #365shots in 365days

The return of SUPER I-POD. Judul yang paling tepat untuk tema #14 di #365shots kali ini. Tadi ketika saya browsing di internet tentang I-Pod dan Mp3 Player lainnya karena rasa menggebu saya sudah lama saya tidak mempunyai teman sejati (baca: Mp3 Player) selama perjalanan, saya teringat dengan I-Pod Mini saya yang sudah lama terabaikan. I-Pod saya itu terabaikan diduga karena baterai sudah soak, tidak mau nyala lagi dan tampak sudah tidak ada harapan hidup dan bisa memutar lagu kecuali diganti dengan baterai yang baru.

Seketika, saya langsung mengeluarkan I-Pod itu dari laci meja saya, dan mencoba mencoloknya lagi ke komputer. Sekali percobaan. Tidak bereaksi. Dua kali. Tetap tidak nyala. Tiga kali. Masih tidak ada tanda kehidupan. Oke, berarti tandanya memang sudah harus diganti. Lalu, saya browsing informasi tentang baterai I-Pod mini itu di internet. Setelah dapat toko yang menjual baterai I-Pod Mini dengan harga terjangkau, saya mencatatnya dan akan membawa I-Pod saya itu kesana untuk diganti baterai-nya.

Tidak lama setelah itu, saya iseng lagi untuk mencolokkan I-Pod saya itu kembali ke komputer. Keisengan yang berbuah keajaiban. Kali ini I-Pod saya nyala, dan komputer saya mendeteksi adanya I-Pod Mini itu. Saya buka I-Tunes, benar saja, I-Pod saya kembali terintergrasi didalamnya. Wahhhh perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, setelah selama setahun lamanya mati suri, secara ajaib I-Pod Mini ini kembali hidup.

Oke, saya tidak boleh senang dulu, karena kasus ini dulu pernah terjadi dan tidak bertahan lama. Hidup, namun baterai-nya tetap bocor ketika memainkan lagu, alhasil satu lagu dimainkan sudah mati lagi. Kali ini saya mencoba men-charge I-Pod itu selama 1 jam sebelum saya pergi. Hasilnya? I-Pod ini berhasil menemani saya sepanjang perjalanan pergi dan pulang tadi, karena memang tadi saya beraktifitas menggunakan sarana angkutan umum. Total sekitar 20-25 lagu berhasil dimainkan, dan baterai tidak nge-drop.

Horaaaaayyyyy!!!! My super I-Pod turns back to life! Well, saya tampaknya tidak boleh senang dulu, kemungkinan untuk drop lagi sangatlah besar. Tapi untuk saat ini, bolehlah saya berkata: Welcome back my super I-Pod :)

#14 from #365shots in 365days

Tagged: 365shotsI-Pod14

20th January 2010

Photo

Untuk hari #13, foto yang saya angkat adalah hidangan makan siang yang terdiri dari Burger Steak + Ice Coffee Latte. Hidangan ini disajikan oleh sebuah restoran favorit saya pada masa bersekolah di SDN Menteng 03 Pagi dahulu. Restoran itu bernama American Hamburger.
Letak restoran ini masih berada di seputaran Cikini, masih sama ketika dulu saya sering mampir sehabis pulang sekolah, namun yang membedakan adalah letak restorannya. Dulu restoran ini berdiri sendiri di seberang Taman Ismail Marzuki, seiring berjalannya waktu, AH sudah mulai tidak kuasa bersaing dengan restoran-restoran baru yang mengharuskannya pindah lokasi ke Hotel Formule 1 di sebelah Taman Ismail Marzuki.
Siang tadi kebetulan saya ada meeting dengan seseorang dari Dewan Kesenian Jakarta, sebelum meeting saya menyempatkan dulu mencicipi hidangan AH untuk menu makan siang saya. Untuk soal rasa, agak menurun kualitasnya, kurang sedap dibandingkan dulu, namun untuk urusan harga, masih sama seperti yang dulu. AH adalah restoran dengan spesialisasi steak dengan harga termurah dibandingkan restoran dengan spesialiasi sama. Ditambah dengan minuman yang bervariasi (ada Root Beer disini, hanya 2 restoran AH dan AW yang menyediakan minuman ini), dan hidangan dessert berupa cake yang lezat dan terjangkau menjadikan AH salah satu restoran yang tidak akan lekang dikekang waktu.
#13 from #365shots in 365days

Untuk hari #13, foto yang saya angkat adalah hidangan makan siang yang terdiri dari Burger Steak + Ice Coffee Latte. Hidangan ini disajikan oleh sebuah restoran favorit saya pada masa bersekolah di SDN Menteng 03 Pagi dahulu. Restoran itu bernama American Hamburger.

Letak restoran ini masih berada di seputaran Cikini, masih sama ketika dulu saya sering mampir sehabis pulang sekolah, namun yang membedakan adalah letak restorannya. Dulu restoran ini berdiri sendiri di seberang Taman Ismail Marzuki, seiring berjalannya waktu, AH sudah mulai tidak kuasa bersaing dengan restoran-restoran baru yang mengharuskannya pindah lokasi ke Hotel Formule 1 di sebelah Taman Ismail Marzuki.

Siang tadi kebetulan saya ada meeting dengan seseorang dari Dewan Kesenian Jakarta, sebelum meeting saya menyempatkan dulu mencicipi hidangan AH untuk menu makan siang saya. Untuk soal rasa, agak menurun kualitasnya, kurang sedap dibandingkan dulu, namun untuk urusan harga, masih sama seperti yang dulu. AH adalah restoran dengan spesialisasi steak dengan harga termurah dibandingkan restoran dengan spesialiasi sama. Ditambah dengan minuman yang bervariasi (ada Root Beer disini, hanya 2 restoran AH dan AW yang menyediakan minuman ini), dan hidangan dessert berupa cake yang lezat dan terjangkau menjadikan AH salah satu restoran yang tidak akan lekang dikekang waktu.

#13 from #365shots in 365days

Tagged: 13365shotsAmerican Hamburger (AH)cikiniMasa SD

19th January 2010

Photo

A new experience in life!
2010 baru berjalan 15 hari, pengalaman baru kembali mampir di kehidupan saya. Kali ini tidak diduga, tidak disangka adalah pengalaman mengajar alias menjadi guru bahasa Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, murid saya adalah mahasiswa S-2 Massachusetts Institute of Technology atau yang biasa dikenal dengan nama MIT. Sebuah universitas ternama di Amerika Serikat, bahkan dunia. Murid saya berkewarganegaraan Jepang berumur 34 tahun. Ia bernama Yoshiyuki Hamaoka.
Pada awalnya Yoshi ke Indonesia untuk melakukan riset atas tesisnya di perusahaan tempat teman saya bekerja, sambil ia melakukan riset, ia ingin lebih mengenal Indonesia sampai ingin belajar bahasa Indonesia. Maka teman saya ini diminta Yoshi untuk mengajarinya. Namun teman saya ini merasa tidak sanggup mengajari Yoshi, lalu ia meminta saya untuk menjadi guru dari Yoshi. Karena saya memang orangnya ingin mencari pengalaman baru, ya saya sanggupi, toh dulu saya pernah menjadi Asisten Protokol di Asian Cup, tugasnya mungkin hampir sama, menemani delegasi asing.
Lalu saya melakukan research di Internet untuk materi-materi yang saya ajarkan nanti. Dalam sekejap, modul 25 halaman berhasil saya hasilkan. Singkat cerita saya menjadi guru bahasa Indonesia untuk Yoshi. Seperti yang bisa dilihat, foto diatas adalah foto saya sedang mengajar Yoshi. Ia termasuk orang yang cepat belajar, terbukti ia sudah bisa menguasai beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia.
Alhamdulillah, ternyata Yoshi suka dengan metode belajar saya, maka ia meminta tambahan waktu les privat. Jadi mungkin ada sekitar 3-4 kali lagi saya akan mengajarinya. Hari ini adalah hari kedua. Untuk urusan fee, saya juga mengucap syukur, karena saya baru tahu kalo bayaran guru privat semacam ini sangat menjanjikan. Jadi terpikir untuk mempunyai murid-murid baru lainnya.
#12 from #365shots in 365days

A new experience in life!

2010 baru berjalan 15 hari, pengalaman baru kembali mampir di kehidupan saya. Kali ini tidak diduga, tidak disangka adalah pengalaman mengajar alias menjadi guru bahasa Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, murid saya adalah mahasiswa S-2 Massachusetts Institute of Technology atau yang biasa dikenal dengan nama MIT. Sebuah universitas ternama di Amerika Serikat, bahkan dunia. Murid saya berkewarganegaraan Jepang berumur 34 tahun. Ia bernama Yoshiyuki Hamaoka.

Pada awalnya Yoshi ke Indonesia untuk melakukan riset atas tesisnya di perusahaan tempat teman saya bekerja, sambil ia melakukan riset, ia ingin lebih mengenal Indonesia sampai ingin belajar bahasa Indonesia. Maka teman saya ini diminta Yoshi untuk mengajarinya. Namun teman saya ini merasa tidak sanggup mengajari Yoshi, lalu ia meminta saya untuk menjadi guru dari Yoshi. Karena saya memang orangnya ingin mencari pengalaman baru, ya saya sanggupi, toh dulu saya pernah menjadi Asisten Protokol di Asian Cup, tugasnya mungkin hampir sama, menemani delegasi asing.

Lalu saya melakukan research di Internet untuk materi-materi yang saya ajarkan nanti. Dalam sekejap, modul 25 halaman berhasil saya hasilkan. Singkat cerita saya menjadi guru bahasa Indonesia untuk Yoshi. Seperti yang bisa dilihat, foto diatas adalah foto saya sedang mengajar Yoshi. Ia termasuk orang yang cepat belajar, terbukti ia sudah bisa menguasai beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia.

Alhamdulillah, ternyata Yoshi suka dengan metode belajar saya, maka ia meminta tambahan waktu les privat. Jadi mungkin ada sekitar 3-4 kali lagi saya akan mengajarinya. Hari ini adalah hari kedua. Untuk urusan fee, saya juga mengucap syukur, karena saya baru tahu kalo bayaran guru privat semacam ini sangat menjanjikan. Jadi terpikir untuk mempunyai murid-murid baru lainnya.

#12 from #365shots in 365days

Tagged: 12365shotsprivate teacherYoshi-san

18th January 2010

Photo

Monitor yang senantiasa menemani hari-hari saya berselancar, bekerja, menulis maupun hanya sekedar bermain game terpaksa harus pindah di gudang terhitung 2 hari yang lalu. Belum diketahui apa penyebab si monitor ini tiba-tiba tidak mau lagi menjalankan tugasnya, tiba-tiba tidak mau menampilkan gambar apapun, hanya layar hitam yang terlihat. Untung saja saya masi punya cadangan satu monitor lagi, padahal dulu monitor yang saya pakai sekarang ini juga tiba-tiba ngambek karena layar gambar yang ditampilkan hanya setengah, namun tanpa reparasi dari siapapun, hanya perlu beristirahat sejenak di gudang, monitor yang saya pakai sekarang ini kembali tokcer.
Mari berharap si monitor yang terdampar di gudang ini, bisa sembuh sendiri. Mungkin ia hanya perlu istirahat dan memejamkan layarnya sejenak. Get well soon, my dear monitor.
#11 from #365shots in 365 days.

Monitor yang senantiasa menemani hari-hari saya berselancar, bekerja, menulis maupun hanya sekedar bermain game terpaksa harus pindah di gudang terhitung 2 hari yang lalu. Belum diketahui apa penyebab si monitor ini tiba-tiba tidak mau lagi menjalankan tugasnya, tiba-tiba tidak mau menampilkan gambar apapun, hanya layar hitam yang terlihat. Untung saja saya masi punya cadangan satu monitor lagi, padahal dulu monitor yang saya pakai sekarang ini juga tiba-tiba ngambek karena layar gambar yang ditampilkan hanya setengah, namun tanpa reparasi dari siapapun, hanya perlu beristirahat sejenak di gudang, monitor yang saya pakai sekarang ini kembali tokcer.

Mari berharap si monitor yang terdampar di gudang ini, bisa sembuh sendiri. Mungkin ia hanya perlu istirahat dan memejamkan layarnya sejenak. Get well soon, my dear monitor.

#11 from #365shots in 365 days.

Tagged: 11monitor365shots

17th January 2010

Photo with 1 note

Hari ini seharusnya saya ingin membahas salah satu dunia yang saya geluti, dunia pers dan keuntungan-keuntungan apa saja yang sering saya dapatkan. Namun, tadi pagi saya telat bangun untuk memenuhi undangan dari pihak Paramount menyaksikan 60 menit preview film How to Train Your Dragon, alhasil saya buru-buru ke EX, sampai sana langsung ngibrit ke bioskopnya. Selesai screening, saya menuju Grand Indonesia untuk bertemu teman-teman saya lainnya yang baru saja selesai nonton bareng film Rumah Dara, saya baru tersadar kalo saya meninggalkan kamera saya di mobil. Oalah, batal tema film untuk #10 ini.
Ketika di jalan pulang, saya berhenti di sebuah perempatan karena menunggu lampu lalu lintas menjadi hijau tanda kendaraan boleh kembali jalan. Seketika saya menemukan tema untuk #10 hari Sabtu ini. Objek yang saya potret adalah radio mobil yang senantiasa menemani saya setiap harinya ketika saya berkendara menggunakan mobil tersebut.
Dalam foto diatas terpampang deretan angka yang merupakan salah satu stasiun radio. 101.0 FM (Jak FM) di channel nomor 1. Bukan saya mempromosikan Jak FM, namun saya memang lebih sering mendengarkan Jak FM dibanding stasiun radio lainnya. Radio mobil saya bisa menyimpan 6 stasiun radio. Seperti yang kalian sudah ketahui, channel nomor 1 diisi oleh Jak FM, lalu berurutan diisi oleh 87.6 Hard Rock FM, 101.4 Trax FM, Cosmopolitan 90.4 FM, Mustang 88.0 FM dan 94.7 U FM.
Keenam stasiun radio itulah yang saya andalkan selama perjalanan saya di jalan, baik ketika macet maupun tidak macet, dalam keadaan mobil saya ramai maupun sendiri, dalam keadaan senang maupun bete. Untuk hari Sabtu ini, biasanya saya lebih banyak mendengarkan Mustang dan Hard Rock FM, karena kedua stasiun diatas mempunyai program khusus lagu-lagu bertemakan cinta yang membuat kuping saya betah untuk berlama-lama di stasiun itu. Di radio Mustang program di hari Sabtu ini sudah terkenal dari dulu, mereka menamakan programnya Rhythm of Love. Dari pagi hingga malam hari, pendengar dicekoki oleh lagu-lagu cinta dalam negeri dan mancanegara. Terkadang lagu yang diputar adalah lagu kenangan saya, atau lagu yang memang membuat saya teringat akan seseorang atau momen tertentu. Haha. Everyone have their favorite love songs.
So, terima kasih untuk radio mobil yang senantiasa menemani saya selama perjalanan berkeliling Jakarta. Jangan kapok-kapok yah, tenang tempatmu tidak akan digantikan oleh Mp3 player atau I-Pod karena memang Cable Connecter untuk menyambungkan ke perangkat itu masih rusak dan belum sempat saya beli gantinya.
#10 from #365shots in 365days

Hari ini seharusnya saya ingin membahas salah satu dunia yang saya geluti, dunia pers dan keuntungan-keuntungan apa saja yang sering saya dapatkan. Namun, tadi pagi saya telat bangun untuk memenuhi undangan dari pihak Paramount menyaksikan 60 menit preview film How to Train Your Dragon, alhasil saya buru-buru ke EX, sampai sana langsung ngibrit ke bioskopnya. Selesai screening, saya menuju Grand Indonesia untuk bertemu teman-teman saya lainnya yang baru saja selesai nonton bareng film Rumah Dara, saya baru tersadar kalo saya meninggalkan kamera saya di mobil. Oalah, batal tema film untuk #10 ini.

Ketika di jalan pulang, saya berhenti di sebuah perempatan karena menunggu lampu lalu lintas menjadi hijau tanda kendaraan boleh kembali jalan. Seketika saya menemukan tema untuk #10 hari Sabtu ini. Objek yang saya potret adalah radio mobil yang senantiasa menemani saya setiap harinya ketika saya berkendara menggunakan mobil tersebut.

Dalam foto diatas terpampang deretan angka yang merupakan salah satu stasiun radio. 101.0 FM (Jak FM) di channel nomor 1. Bukan saya mempromosikan Jak FM, namun saya memang lebih sering mendengarkan Jak FM dibanding stasiun radio lainnya. Radio mobil saya bisa menyimpan 6 stasiun radio. Seperti yang kalian sudah ketahui, channel nomor 1 diisi oleh Jak FM, lalu berurutan diisi oleh 87.6 Hard Rock FM, 101.4 Trax FM, Cosmopolitan 90.4 FM, Mustang 88.0 FM dan 94.7 U FM.

Keenam stasiun radio itulah yang saya andalkan selama perjalanan saya di jalan, baik ketika macet maupun tidak macet, dalam keadaan mobil saya ramai maupun sendiri, dalam keadaan senang maupun bete. Untuk hari Sabtu ini, biasanya saya lebih banyak mendengarkan Mustang dan Hard Rock FM, karena kedua stasiun diatas mempunyai program khusus lagu-lagu bertemakan cinta yang membuat kuping saya betah untuk berlama-lama di stasiun itu. Di radio Mustang program di hari Sabtu ini sudah terkenal dari dulu, mereka menamakan programnya Rhythm of Love. Dari pagi hingga malam hari, pendengar dicekoki oleh lagu-lagu cinta dalam negeri dan mancanegara. Terkadang lagu yang diputar adalah lagu kenangan saya, atau lagu yang memang membuat saya teringat akan seseorang atau momen tertentu. Haha. Everyone have their favorite love songs.

So, terima kasih untuk radio mobil yang senantiasa menemani saya selama perjalanan berkeliling Jakarta. Jangan kapok-kapok yah, tenang tempatmu tidak akan digantikan oleh Mp3 player atau I-Pod karena memang Cable Connecter untuk menyambungkan ke perangkat itu masih rusak dan belum sempat saya beli gantinya.

#10 from #365shots in 365days

Tagged: 10365shotsmycarradiomusicsaya

16th January 2010

Photo

Jumat, 15 Januari 2010. Goethe Haus - Sarinah Thamrin - Pasific Place - Masjid Sunda Kelapa - Kalibata. Rute saya sepanjang hari ini.
Hari yang sangat melelahkan di awal tahun 2010, ditambah dengan beberapa hal yang berhasil menambahkan banyak beban pikiran sesampainya dirumah. Fiuhhh, what a day. Alhamdulillah saya masih punya Allah SWT yang senantiasa mendengarkan segala macam curhatan saya, dan dia juga yang membuat saya tenang dan kembali berpikiran jernih.
Namun, sebelum hari yang melelahkan itu tiba, tadi pagi saya mengambil satu foto dari teras atas rumah saya, foto yang membuat saya kembali tersenyum dan mengingat momen pagi tadi. A view in the morning from the top of my house. Rumah saya memang berada di kompleks yang dipenuhi dengan sekolah-sekolah. Ada 3 SD dan 2 SMP. Hal paling menyenangkan adalah ketika tepat sebelum anak sekolah masuk, saya berada di teras rumah, dan melihat para anak sekolah yang baru saja datang berjalan menuju sekolahnya masing-masing. Ada banyak raut muka tergambar di masing-masing anak. Ada yang senang gembira, ada yang seperti baru bangun tidur, sehingga terlihat ngantuk. Ada yang tidak bersemangat. Ada yang menggerutu. Ada yang terlihat menikmati perjalanan pagi itu dengan tawa lepas bersama temannya dan banyak raut muka lainnya.
Seketika otak saya memutar memori jauh ke masa sekolah dulu, masa dimana saya belum dipenuhi oleh banyak tanggung jawab dan pikiran berat yang menganggu, seperti yang dialami saya pada malam ini. Masa dimana semuanya tampak menyenangkan. Tidak ada beban pikiran, mungkin beban terberat hanya ujian dan memikirkan bagaimana lulus dengan nilai baik, selebihnya? Kita bebas berekspresi sesuka kita, tertawa selepas-lepasnya dan melakukan kebodohan-kebodohan khas anak yang baru tumbuh menuju dewasa.
Memang benar perkataan banyak orang ketika saya masih duduk di bangku SMU dulu. Mereka berkata, nikmatilah masa sekolahmu, karena masa itu adalah masa yang terindah dalam hidup. So true. Mungkin, obat penenang paling ampuh kegundahan hati saya malam ini selain curhat kepada Allah SWT, adalah mengingat kembali masa-masa sekolah dulu, walaupun tidak terlalu mengesankan, namun masih tetap indah untuk diingat kembali. Masa dimana kebahagiaan terasa begitu tulus dan hidup seperti tanpa beban. Nostalgia, dimulai :)
#9 from #365shots in 365days

Jumat, 15 Januari 2010. Goethe Haus - Sarinah Thamrin - Pasific Place - Masjid Sunda Kelapa - Kalibata. Rute saya sepanjang hari ini.

Hari yang sangat melelahkan di awal tahun 2010, ditambah dengan beberapa hal yang berhasil menambahkan banyak beban pikiran sesampainya dirumah. Fiuhhh, what a day. Alhamdulillah saya masih punya Allah SWT yang senantiasa mendengarkan segala macam curhatan saya, dan dia juga yang membuat saya tenang dan kembali berpikiran jernih.

Namun, sebelum hari yang melelahkan itu tiba, tadi pagi saya mengambil satu foto dari teras atas rumah saya, foto yang membuat saya kembali tersenyum dan mengingat momen pagi tadi. A view in the morning from the top of my house. Rumah saya memang berada di kompleks yang dipenuhi dengan sekolah-sekolah. Ada 3 SD dan 2 SMP. Hal paling menyenangkan adalah ketika tepat sebelum anak sekolah masuk, saya berada di teras rumah, dan melihat para anak sekolah yang baru saja datang berjalan menuju sekolahnya masing-masing. Ada banyak raut muka tergambar di masing-masing anak. Ada yang senang gembira, ada yang seperti baru bangun tidur, sehingga terlihat ngantuk. Ada yang tidak bersemangat. Ada yang menggerutu. Ada yang terlihat menikmati perjalanan pagi itu dengan tawa lepas bersama temannya dan banyak raut muka lainnya.

Seketika otak saya memutar memori jauh ke masa sekolah dulu, masa dimana saya belum dipenuhi oleh banyak tanggung jawab dan pikiran berat yang menganggu, seperti yang dialami saya pada malam ini. Masa dimana semuanya tampak menyenangkan. Tidak ada beban pikiran, mungkin beban terberat hanya ujian dan memikirkan bagaimana lulus dengan nilai baik, selebihnya? Kita bebas berekspresi sesuka kita, tertawa selepas-lepasnya dan melakukan kebodohan-kebodohan khas anak yang baru tumbuh menuju dewasa.

Memang benar perkataan banyak orang ketika saya masih duduk di bangku SMU dulu. Mereka berkata, nikmatilah masa sekolahmu, karena masa itu adalah masa yang terindah dalam hidup. So true. Mungkin, obat penenang paling ampuh kegundahan hati saya malam ini selain curhat kepada Allah SWT, adalah mengingat kembali masa-masa sekolah dulu, walaupun tidak terlalu mengesankan, namun masih tetap indah untuk diingat kembali. Masa dimana kebahagiaan terasa begitu tulus dan hidup seperti tanpa beban. Nostalgia, dimulai :)

#9 from #365shots in 365days

Tagged: 365shots9old memoriesschooltimecurcol